Selasa, 25 Agustus 2009

Chominga

Ha

ri ini adalah hari senin, hari pertama aku masuk sekolah dan mungkin merupakan hari paling berkesan seumur hidupku. Dimulai dengan adegan kesiangan, hingga tak sempat mandi apalagi sarapan. Kuberlari disepanjang tepi trotoar dengan rambut acak-acakan dan pakaian yang tak karuan_beruntung aku sempat pakai sepatu beserta kaus kaki putihnya. Sang langit seolah mendung cemberut menatapku hingga suasana gelap yang dominan menyelimuti pagi ini.


Karena aku orang yang baru pindah dikota ini, akupun tak menghiraukan papan tulisan ‘’Awas Anjing Galak’’ menghadang ditepi jalan. Aku terus berlari menuju sekolahku yang berada 100 meter didepan hidung. Kini tinggal 80, 60, 30 meter. Namun, dilangkah yang menghantarkanku kebelasan meter kearah tujuanku, kurasakan sesuatu terinjak olehku. Lembut, lunak, berbulu serta mengeluarkan suara yang sangat tak ingin kudengar. Kini ketika Sang Herder menggeram dan menutup jalanku, aku berbalik dan berlari sprint ala guru olahraga.


100m, 200m, 300m, masih dapat kuatasi kecepatan Sang Herder tersebut. Tapi kemudian kupanjat tiang telepon disisi kiri jalan untuk menghindari rahang keras dislimuti air liur menetes menjijikkan yang seolah dengan liar mengincar bagian terbelah dibelakangku. Sudah dapat dipastikan aku telat hari ini.


Setelah Sang Herder tampaknya bosan denganku yang bermain curang, iapun meninggalkuan tubuhku menempel ditiang. Merasa situasi aman terkendali, dengan waspada kuberanjak merosot turun. Tapi tampaknya Sang Herder telah memasang jebakan paling kurang ajar. Sebuah kotoran besar teronggok berwarna hijau tua telah terinjak olehku. Menempel dikedua sepatuku, belepotan dan sangat menjijikkan. Yaiks… rasanya ingin kuberlari, bukan karna malu, tapi ingin segera mencari WC terdekat, membungkus kotoran yang bau untuk kumasukkan kemulut anjing tersebut. Biar tau dia rasanya kotoran manusia.


Yah, biarlah. Toh semuanya telah terjadi. Yang penting segera mencari air. Sesaat aku terpana dengan sebuah parit lebar dengan air yang lumayan bersih. Pucuk dicinta, ulampun tiba. Kudekati genangan air tersebut, kujulurkan kaki kiriku sambil menggoyang-goyang tapak sepatuku biar bersih. Tiba-tiba, bagai petir disiang bolong, menyambar tepat dibelakang bokong, aku diserempet pedagang bakso kaki 5__3 kaki punya gerobak, 2nya lagi punya yang jual. Ia menyerempet dan membuatku menenggelamkan kaki hingga ke paha. Refleks kupanjat parit tersebut. Kucari pedagang sialan tadi. Tampaknya ia sudah lari tunggang langgang kaya’ jaelangkung_datang tak dijemput, pulang tak diantar. Kali ini aku benar-benar berlari, biar cepet nyampe dirumah. Tapi ternyata penderitaanku ternyata belum berkesudahan. Pas melewati perkampungan, aku melintasi sekumpulan anak-anak sedang bermain dilapangan coklat tak berumput. Seperti digerakkan sesuatu, seluruh anak-anak itu langsung berlari mengejar dan mendekatiku. Pertama kupikir, mereka jarang ngeliat abang ganteng.


Namun ke-ge-er-an ku sirna bila kudengar sayup-sayup teriakan


“orang-gila…orang-gila…!” Busyet, aku disangkain orang gila ama anak-anak kecil.


“Woi..brisik!!” aku berbalik sambil membentak. Eh, bukannya diem, anak-anak tersebut malah makin kenceng teriakannya. Apalagi anak yang badannya subur.


“N’dut, gue tiup perut loe biar meledak, baru tau rasa ya!!” gertakku


“Emang perut gue ban, bisa meledak?!” Ketusnya sambil tetep diiringi kor bareng teriakan temen-temennya.


Merasa ng’gak mempan ama cara kasar, kali ini kucoba cara yang lebih lunak.


“Eh, kakak bukan orang gila. Kakak cuman mau numpang lewat aja kok” kali ini bocah kerempeng yang menyahut.


“Kalo ng’gak gila, trus ngapain kakak main air selokan?!!”

Emosiku langsung meledak kaya’ bom atom.


“Apa loe bilang?!!” Kataku sambil mengangkat bocah keong tersebut dan menggoncang-goncangkannya diudara.


“K..K…Kakak, anjing gila!! Eh… kakak gila babi!! M..Maksud saya kakak ng’gak beneran gila kok, cuman gila boongan” Katanya dengan wajah tanpa dosa.


Kuturunkan bocah kurus tersebut, lalu kujewer telinganya hingga menjerit kesakitan. Merasa cukup puas, kutinggalkan anak itu yang kini menangis. Tanpa kusadari, seorang pria keluar dari salah satu rumah sambil memamerkan dadanya yang berbulu lebat. Akupun kembali melanjutkan marathon yang sempat tadi terhenti. Bukan karena dadanya yang berbulu, namun karena parang berkilat diujungnya yang menandakan ketajamannya yang ia pamerkan kepadaku.


Selamat aku berhasil lolos dari maut, untung udah lumayan jauh aku berjalan baru tuh orang mengejar. Kalo ng’gak, aku tadi bisa jadi tokoh utama tragedi berjudul “peristiwa berdarah siswa SMA karna parang dan bulu dada”


Dengan celana basah dan bau serta ditemani butiran-butiran keringat diseluruh tubuh, kulanjutkan ekspedisi pulang kerumah. Merasa kesialan terus yang sedari tadi mencumbuiku, akupun makin waspada. Tekadku yang ingin Back To Home pun makin membulat. Takkan melonjong ataupun mengempis meski badai meniup maupun menggencet sekalipun.

Namun baru beberapa meter aku melangkah, kulihat gadis manis yang kerepotan karna kantong plastik belanjaannya sobek. Otomatis isinyapun berhamburan jatuh diatas trotoar. Sejenak niatku tergoyahkan.


“Ah, ada jutaan orang dijalur trotoar ini kok. Masa’ gak ada orang yang mau tulungin tuh cewek” Bisik rohku.


Dengan wajah cuek_secuek-cueknya, kulewqati gadis tersebut tanpa menoleh secuilpun. Saat itu aku ngerasa bangga banget ama diri sendiri, karna sebagai lelaki, ngejaga komitmen itu sangatlah sulit. Gak semua cowok bisa!!!


Sedetik kemudian aku baru ngerasa, ternyata ada lebih dari jutaan orang yang ada disitu. Pasalnya, waktu aku bicara pada diri sendiri, ternyata didepan keningku telah ada tiang lampu jalan yang berdiri tegak menghadang. Kontan suara benturan keras jidatkupun mengaung perih diikuti oleh paduan suara yang kuyakin antara milyaran hingga trilyunan orang kini sedang menertawakanku.


Tiga kali, nyut, nyut, nyut dikepalaku langsung membutku berdiri dan seketika berlari kesetenan. Mungkin setan tercepat sekalipun dapat kupecundangi saat itu. Mulai dari sepeda, motor, bajaj, minibus, taxi, hingga bus tingkat dua kupotong tanpa perlawanan.


Hanya mata merah menyala bundar ditemani dua mata lainnya menjadi saksi saat itu ketika aku menyeberangi zebracross untuk berpindah jalur jalan melewati persimpangan.


“Tuh tiang ngapaen lagi pake nongol didepan jidat gue?!!” Kumulai sumpah serapah 13 yang kupersembahkan pada tiang terkutuk tadi.


Sekarang langkahku mulai sedikit nyaman, diikuti bayangan coklat tubuhku yang seolah terpanggang oleh panasnya sorotan mata Sang pusat bodongnya tatasurya. Aku tak ambil pusing lagi dengan situasai sekeliling. Aku juga makin kehilangan konsentrasi disebabkan dehidrasi. Untung cuman cairan yang menguap, kalo ng’gak aku pasti udah ikutan melayang mengambang diudara kar’na kehilangan massa jenis tubuhku.


Pelan-pelan aku melihat sebuah tas terduduk ditepi jalan disamping 2 buah tong sampah gemuk. Ku_kucek-kucek kedua mataku yang seolah berkabut “Emang tas kok itu” Kataku dalam hati meyakinkan diri sendiri. Seperti dituntun bidadari pengisi surga, akupun meraih tas tersebut dan berniat mengantarkannya ke pos penjagaan yang ada didepan, dekat persimpangan ini. Lagi-;agi keapesanku mulai kumat, ternyata ini tas punya-nya Tong Sampah, tapi aku salah liat. Sebenernya itu tong sampah adalah ibu-ibu gemuk berbaju seksi sedang duduk mengikat tali sepatu miliknya. Kontan ia tereak-tereak


“RAMPOK!!!” Sambil menunjuk kearahku. Semua makhluk kota, mulai dari semut ampe kakek-kakek puyn pasti pasang wajah beringas bila mendengar kata tersebut. Merasa terancam bahaya yang paling berbahaya dihari ini, akupun cepat-cepat berlari. Niatnya sih ke pos penjagaan. Namun aku udah keburu kesandung lubangnya mulut jalanan yang memamerkan keompongannya. Akupun berguling kedepan, nungging, nuncep, nangkring sebentar dipinggir got buat ambil oksigen, trus meluncur kesisi tembok, nemplok kaya’ telor ceplok dan terlenteng pingsan sambil tiduran.


Entah apa yang kemudian terjadi, mungkin aku digebukin ampe ¼ mati, lalu dibakar ampe ½ mateng, trus dibagiin kaya’ daging kurban ama kucing-kucing liar. Atau mungkin aku ditelanjangin lalu diarak keliling pasar sambil diiringin musik tradisional kaya’ anak sunatan. Tapi kalo sunat “itu” nya yang dipotong, kalo aku udah pasti nih leher yang bakalan digorok ampe putus.


Bahkan mungkin yang paling ekstrim dan tak ingin aku bayangin adalah aku akan dikelitikin ampe mampus-pus-pus meong, oleh warga sekampung. Bayangin aja sengsaranya digelitikin ampe ko’it, makan waktu berapa lama tuh?

Tapi waktu aku buka mata, yang ku lihat banyak asap putih, aku lalu duduk. Pengen banget rasanya aku tereak ketakutan. Soalnya aku sekarang ada dalam ruangan sempit dengan tembok di tiga sisinya dan sebuah terali besi disisi lainnya yang didalemnya berisi pria-pria kekar bertato tak berbaju sedang menghisap rokok. Aku kira mereka adalah para malaikat-malaikat neraka yang agak gaul yang akan menyiksaku, tak taunya aku ada didalam sel tahanan kepolisian karena dituduh mengambil tas orang lain dan akan menjalani pemeriksaan beberapa hari.


”Hei cacing…Cepat kau pijat badanku!!!” Bentak seorang tahanan yang berkumis batak, maksudku logatnya.


“I…iya bang” Jawabku takut.


“Cepat ya, abis itu aku !!!” Sahut temennya.


Huhuhu…ingin rasanya nangis sambil pipis dicelana, soalnya WC disini bau. Belon lagi jatah makanannya yang ng’gak berprikemanusiaan, hanya masuk ketegori berpri-kelaperan. Jadi kalo laper banget, kepaksa deh baru aku makan.

Selama sehari, kulewati jadi tukang pijit orang-orang yang ada disitu, udah kaya’ pembantu disuruh inilah itulah. Baru pas sorenya aku dinyatakan tak bersalah kar’na terbukti tak sengaja mengambil tas dan ibu tersebut juga udah memaafkanku dan mencabut laporannya.

Akhirnya aku keluar dari kantor polisi dengan mata merah lebam kurang tidur, lemah kurang makan, letih kecapean, lesu kurang gizi, lunglai kaya’ tauge direbus, dan loyo tak bersemangat. Semoga kali ini aku bisa selamat sampe kerumah. Do’ain aku ya?!! Please….:-)

29 juli 2007






Tidak ada komentar: