Selasa, 25 Agustus 2009

Ego

Ku

paksa tubuh ini ‘tuk bergerak,meski dengan keadaan setengah sadar. Entah jam berapa sekarang, yang pasti tempat jalanku terasa gelap. Sekarang aku hanya ingin pulang kerumah, tapi bukan ‘tuk makan_meski aku lapar, juga bukan ‘tuk minum_meski tenggorokanku kering. Aku hanya ingin tidur. Tidur melupakan segala permasalahan yang menghinggapiku seperti lalat-lalat kotor sedang menggerayangi sampah.


Aku masih berjalan perlahan meski gontai. Tadi aku hampir menabrak pohon, barusan aku juga nyaris tersungkur setelah tersandung batu.


Sebenarnya aku ingin menjalani hidupku seperti hari-hari sebelum aku merasa muak dengan hidupku yang sekarang. Aku seolah ‘tak punya ayah_setelah ia sering memukuliku hanya kar’na dimatanya aku salah. Aku juga merasa tak ber-ibu, sejak ia_wanita yang satu-satunya ada bersamaku mulai jarang ada dirumah. Pergi selepas maghrib dan pulang entah jam berapa.


Aku akhirnya sering melahap habis waktuku dengan teman-teman yang sebaya dan senasib denganku. Aku juga mulai belajar menyulut rokok diantara jemariku. Aku masih sangat ingat saat pertama kali menghirup asap tembakau, aku terbatuk-batuk. Batuk yang sangat berat dan sangat sakit, namun tetap kutelan asap tersebut. Menurutku rasa sakit yang dirasa tubuhku malah dapat meredam kesakitan dan amarah yang bergejolak didalam jiwaku.


Sejak saat itu akupun semakin terjerumus dalam sumur narkoba dan alkohol. Aku hanya punya teman yang dekat denganku hanya bila aku sedang punya uang. Itupun pasti setelah kujual barang-barang berharga milikku. Setelah puas menikmati barang haram tersebut, merekapun lantas perlahan beranjak meninggalkanku satu persatu. Akupun hanya bisa meraba-raba kegelapan malam menuju rumah.


Akupun kini mulai tak dapat mengendalikan pikiranku, aku merasa terbang, melayang, mendekap rumput-rumput hujau yang rimbun dan tumbuh subur dengan liarnya ditepi jalan dibibir semak-semak_setelah sesaat tadi nyaris seolah malaikat maut dengan cahayanya melaju menyerempet tubuhku kar’na meniti lunglai keluar ketengah jalan.


Sekali lagi kunikmati sisa waktu malam yang tak lagi panjang bagiku dengan ditemani gejolak hembusan nafas dan diiringi tarikan otot-otot diafragma tubuhku serta ditemani titik-titik embun menjelang fajar baru yang bagiku sama seperti fajar-fajar terdahulu.

Tidak ada komentar: