Selasa, 25 Agustus 2009

Taman Makam Kota

Bi

asanya weker yang menggugahku dari tidur, tapi entah kenapa subuh ini tepat pukul empat aku terjaga. Aku duduk dibibir ranjang kusut tak karuan, aku lalu berdiri menjulurkan tangan kanan keatas meraih tali lampu mengganti nyala bohlam dengan neon 15 watt. Silau memang, tapi aku senang kar’na membantuku membunuh kantuk yang masih bergelayutan dikelopak mata. 20 menit lewat begitu saja, setelah benar-benar sadar, akupun keluar kekamar mandi. Dinginnya air menyegarkan tubuh dan jiwaku. Aku kembali kekamar, menutup pintu dan berniat melakukan pemanasan sebelum berolah raga. Pemanasanku terhenti saat alunan adzan subuh menembus masuk ketelingaku. Selesai sholat, aku bersiap untuk lari pagi mengitari jalan raya didekat rumahku. Tepat 05.25 aku keluar rumah, kuhirup udara yang berhembus membawa embun lembut yang sedikit terasa lembab. Kubuka pintu gerbang dan mulai lari-lari kecil menyusuri lajur jalan yang lurus kedepan.


Beberapa menit kulalui dengan cahaya temaram dari lampu-lampu teras rumah ditepi jalan. Mulai dari kompleks perumahan, kemudian sebuah sekolah dan disusul simpang tiga yang telah tampak di kejauhan. Aku memutuskan ‘tuk kekiri. Kulewati gereja dan masjid yang berjarak kurang dari puluhan meter. Aku langsung bersyukur kar’na didaerahku ini masih aman dari perang antar agama yang sering kulihat di tv. Nafasku kini mulai berantakan, kuperlambat lariku namun berusaha agar tak berhenti. Kuatur lagi nafasku dengan cara dua langkah ber-inspirasi, dan dua langkah ber-ekspirasi.


Kini aku melawati deretan ruko-ruko baru dibangun yang dihalamannya berkumpul para remaja duduk menikmati puing-puing waktu malam minggu semalam yang sayang ‘tuk dibuang. Lalu sebuah pom bensin disisi kananku_ yang seingatku biasanya dijaga sepasang anjing. Kupercepat lariku. Tapi ini bukan kar’na anjing, tapi ……-sebenarnya aku tak mau bilang, namun sebaiknya kalian harus tahu bahwa tepat dimuka pom bensin tersebut terdapat tempat pemakaman umum, mulai dari kuburan_ ups, aku kelepasan kata yang sebetulnya ‘tak ingin aku katakan. Tapi…… ya sudahlah, toh sudah terlanjur keluar.


Kembali kecerita kita, mulai dari kuburan Cina, Kristen, dan Islam ada disitu_ berbeda blok tentunya. Dikarenakan medannya agak sedikit menanjak, maka meskipun lariku kupercepat,tetap saja terasa lamban.


Kini aku mulai mendekati persimpangan. Pandanganku seolah terhipnotis oleh lampu penghias jalan yang tegak berdiri disisi kiri jalur jalanku. Tanpa sadar tiba-tiba dihadapanku seorang wanita muda tampak kesakitan terduduk ditepi jalan. Ia mengenakan kaos merah pudar dan mengenakan celana yang sangat kontras dengan warna sepatu miliknya.

Tanpa bertanya, kuangkat tubuhnya dan kududukkan dibibir bangku batu disebuah taman kota yang ada persis didekat lokasi tersebut.


“kenapa?,terkilir?,sakit?, enggak apa-apakan?“ tanyaku yang kebanyakan dijawab olehnya dengan gelengan kepala.


Selang beberapa saat, kami berdua malah jogging seolah melanjutkan perjalananku yang sempat sesaat tadi terhenti. Tak banyak kata yang terlontar diantara kami, malah bisa dibilang ‘tak ada. Ia tampaknya lebih senang memandang kedepan, sementara aku sendiri sesekali mencuri pandang ke wajahnya yang lumayan cantik.


Rasanya selama lari dengannya sedikitpun aku tidak merasa lelah, malah setiap langkah seolah membuatku semakin bergairah untuk terus tetap berlari.


Langkahku mulai berhenti saat ia menuju kearah jalan kecil yang belum beraspal. Aku saat itu hanya diam terpana disudut jalan menatap wanita tersebut berjalan lambat di kegelapan dan seolah samara-samar menghilang dari pandangan.

Aku sangat terkejut ketika sebuah tepukan lembut di punggung menyadarkanku. Aku tak kenal siapa dia. Merasa hanya perbuatan iseng dari sesama penikmat udara pagi, akupun bergegas pulang.


Sampai dirumah, kuraih Koran pagi yang tergeletak diatas meja tamanku. Halaman pertama terpampang gambar yang menurutku sesosok mayat dengan posisi tergeletek tidak wajar. Dibawah gambar tersebut tertulis :


“Ditemukan, seorang gadis diduga korban tabrak lari di persimpangan jalan didepan taman kota. Korban mengenakan kaos putih yang telah banyak berlumuran darah”

Sampai disitu aku tidak ingat apa-apa lagi_ yang aku tahu aku sudah terbaring ditempat tidur dengan tubuh menggigil.Tapi ada satu hal yang baru aku ingat. Ternyata, jalan dimana aku berpisah dengan wanita misterius tersebut adalah jalan pintas menuju kekawasan pemakaman umum. Menurutku mungkin ia kebingungan dalam mencari jalan menuju

Tidak ada komentar: