Selasa, 25 Agustus 2009

Beautyfly

Yang lentik teracik oleh Sang aestro keindahan, kepakan kecil sepasang sayapmu bergelayut manja disela-sela semak runcing rumput kering. Luwes tubuhmu memainkan gelombang udara yang ada, mengangkat dirimu terpasung mistis dibawah langit berawan tipis.

Dengan jaring lembut berlengan kayu kukejar kupu-kupu itu. Ayunan ringan menjadi perangkap kau dan teman-temanmu yang lain. Hati-hati kumasukkan dalam bening kotak tembus pandang yang nyaris sesak penuh warna-warni.

Merasa cukup dengan tangkapan sore ini aku berkemas pulang. Tiba-tiba semilir harum menyentil indra pembauku. Dibalik pohon besar tak jauh dari tempat aku berdiri, terlihat putih sepotong kain. Penasaran kudekati dan kudapati sesosok wanita sedang duduk sendiri.

“Maaf, kamu kenapa?”

Ia menoleh kaget, kuperhatikan tangannya sedang memegang seekor kupu-kupu berwarna putih polos.

Kuletakkan kotak berat yang kusandang dibahu, lalu langsung kuraih kupu-kupu tersebut.

“Wah, cantik sekali kupu-kupuk ini. Boleh kuminta?”

Dengan lambat ia menyerahkan kupu-kupu tersebut kepadaku. Dari balik hitam lebat rambutnya, kudapati matanya yang merah dan berair.

“Kamu kenapa?” tanyaku penuh selidik sambil membelai belahan mahkota wanita miliknya yang begitu sangat indah. Namun dengan cepat ia menepis tanganku dan berbalik pergi.

Kejadiannya begitu singkat, saat ia menyenggol kotak kupu-kupu milikku hingga terjatuh dari atas akar menyembul tempat yang kupilih untuk menaruh harta berhargaku tadi. Malang tak dapat kutolak, kotak tersebut oleng dan terjatuh pecah.

Bagai roh-roh yang telah lama terkurung, kupu-kupu yang kutangkap semua terbang berserakan diantara pepohonan melewati sisi-sisi tubuhku.

“Oh…” kataku berbalik mengikuti arah mereka terbang.

“M,maaf…” katanya seperti mengeja.

Kupandangi dengan sedih, padahal para pembeli telah seminggu menungguku menepati janji untuk menjual awetan kupu-kupu liar sebagai hiasan.

Ketika aku menoleh, wanita tersebut masuh berdiri dan menekuk wajahnya. Rambut panjangnya hampir menyelimuti 2/3 dari mukanya, meski begitu keindahan parasnya dapat kurasakan 3 X lipat dari 1/3 sisi yang terlihat.

“Aku Erdy” kujabat tangan kurus nan lembut miliknya.

“Rhena” jawabnya singkat.

“Gak apa-apa, besok aku bisa cari lagi kok…” aku berusaha mencari perhatiannya.

Lagi-lagi ia tak memberikan reaksi yang berarti bagiku. Ia melepaskan tanganku yang sedari tadi memang masih mengikat erat tangannya.

“Maaf…” kali ini aku yang berkata gugup sambil cengengesan.

180 derajat ia berputar dan berjalan pelan menjauhiku. Nanti akan kucari tahu dimana ia tinggal kataku dalam hati.

Hingga hilang ia dari pandangan, aku baru bergerak pulang.

Sejak kejadian tersebut, banyak langgananku yang kabur. Mereka ternyata sangat kecewa. Bahkan hampir 2 minggu aku tak mendapatkan pembeli untuk hiasan kupu-kupu milikku.

Ah, lebih baik aku mempersiapkan stok barang jualanku. Kalau nanti telah ada yang memesan, aku tak perlu repot-repot mengejar target janjiku.

Maka esok harinya, tepat 2 minggu dari tragedi pecahnya kotak kaca, aku dengan persiapan seperti biasanya berangkat kehutan tempat aku menangkap kupu-kupu..

Benar-benar aneh, hampir 2 jam aku berkeliling. Tak satupun terlihat serangga terbang untuk kukejar. Rasa lelahpun cepat menghinggapi diri. Didekat seonggok rumput tebal aku duduk istirahat. Kuayunkan jaring milikku kesana-kemari sebagai bentuk kekesalan yang tak jelas.

Tak jauh dari situ, kulihat sebuah objek kecil putih berayun tak seimbang. Namun 100% kuyakin itu adalah kupu-kupu pertamaku dihari ini. Tanpa membawa kotak kaca yang baru kubeli, langsung kukejar dan kudekati targetku kali ini.

Ternyata kupu-kupu ini lumayan besar dan benar-benar solid warna putihnya. Perlahan- kuayunkan jaring bertangkai milikku, beberapa kali ia berhasil lolos. Bagiku itu biasa, maka tak heran diayunan berikutnya ia telah tak berkutik diantara perangkap jaring tipisku.

Takut merusak sayap rapuhnya, pelan-pelan kuambil. Aneh, ia diam tak bergerak. Malah aku langsung mencium wangi yang tak asing bagiku. Tiap detik wangi tersebut kian tajam merobek kesadaranku, tubuhku lemah tak bernyawa, aku langsung tergeletak tak mampu bergerak. Tetapi aku masih dapat melihat sesuatu terbang, silau bercahaya mengalun keangkasa.

Saat sadar, kerumunan orang-orang yang tak kukenal menghantam keras hingga ku_terbangun dari kepingsananku.

“Apa yang kau lakukan nak?”

Aku layaknya orang pikun, tak tahu ingin bicara apa. Seolah mengerti apa yang terbaik untukku, para orang tersebut menggiringku kerumah terdekat.

Sehabis membunuh semua kebingunganku, maka kupaparkan semua kisah yang kualami. Mulai dari awal hingga apa yang kuingat disaat terakhir kesadaranku.

Paras keterkejutan menjalari para warga. Seorang pria yang kurasa orang yang dituakan memaparkan bahwa penduduk sekitar desa ini percaya bahwa kupu-kupu merupakan roh penjaga desa. Mereka menyebutnya Rhena, kupu-kupu putih polos. Kupu-kupu tersebut merupakan jelmaan dari Ratu kupu-kupu yang akan selalu berusaha melindungi koloni komunitasnya dari gangguan makhluk asing.

Maka akupun mengerti ternyata ia telah dengan sengaja melepaskan semua kupu-kupu yang kutangkap. Aku yakin, kemarin ia sedang bersedih melepas kepergian temannya saat kudekati. Dan keanehan yang kualami pasti teguran agar aku sadar atas perbuatanku ini yang sangt dibencinya.


14 Februari 2009


Tidak ada komentar: