Sa yup getar embun meluncur cepat membelah tumpukan semak liar belukar. Kesadaranku kembali perkuat kelopak mata agar tetap selalu siap siaga terjaga. Sadar bahwa diri ini tak ingin melepaskan mimpi yang tadi sempat hampir tak berhenti, kembali kudekati lubang pusaran imaji.
Kuat ia menghisap tubuh ini, menghipnotis jiwa yang terlepas, aku terlelap lagi.
Kini aku telah ada dihamparan hijau permadani rumput alami. Kupandangi elok tiap lekuk indah tubuhmu, gemulai magis sudut-sudut tumpul pada dirimu.
Mentari jingga muncul dikedua tajam sorotan matamu, hangatkan jiwa yang hampir terlupakan.
Rona merah pipimu, warnai ruang-ruang hampa yang tak lagi bernyawa dalam rongga-rongga dada.
Puncak bukit hidungmu menakjubkan, seolah menekuk semua angan-angan yang tak ingin terhalangi.
Cekungan lembah surgawi, seakan gambaran dagumu yang mampu menopang senyum para peri-peri putri bidadari surgawi yang sedari tadi bercanda dengan dirimu.
Alunan tawa mereka merupakan refleksi nada-nada tinggi melodi kawasan firdaus. Ucapanmu kini malah semakin mengiringi harpa, menjadi rithym abadi disepenjuru sisi.
Lagi-lagi aku terbuai, tak mampu menggerakkan kata-kata untuk melampiaskan semua rasa kagum yang tak lagi mampu terbendung. Sekarang, aku benar-benar memutuskan berhenti, bersumpah menepi disini, setelah sekian lama aku menjadi musafir mimpi.
Sr”31 jan’2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar