Sabtu sore kumatikan HP, bukan lowbat ataupun rusak, hanya malas melayan cowokku yang bernama Dira. Wanita manasih yang gak jengkel kalo udah hampir 1 bulan tak pernah dapat kabar dari pacarnya?
“yaudah, berarti kita jalan masing-masing aja…” kataku dalam hati
Eh, tak taunya tiba-tiba dia nelpon. Langsung marah-marah dengan alasan aku gak ngasih tau nomerku yang baru. Padahal udah 13 kali aku telponin dan udah gak keitung lagi sms dariku yang isinya “In no.Q yg baru, Wia”
Makin bulat aja nih tekad menjauh darinya. Sambil baring-baring dikamar, tak ada pikiran sedikitpun buat ngedenger suaranya. Akupun meraih buku pelajaranku. Bahasa Inggris, WIA DERASINDY, stempel yang melekat diwajah petaknya.
Dari luar pintu, merambat suara ketukan perlahan.
“Wia, ada Dira tuh diluar…” nada lembut ibuku memanggil
“Iya Bu, biarin aja. Ntar…” jawabku yang memang tak berniat buat nemuin dia.
Kupandangi langit-langit kamarku, membentuk persegi kecil. Semakin ciut dan melemparku jauh dalam urat-urat ingatanku
Kini aku berada dalam ruang kelas 1 SMP tempatku dulu bersekolah, tepat ditengahnya aku terpasak. Tiba-tiba beberapa siswi berjalan menembus jasadku. Tak terasa apa-apa, hanya udara sesaat dingin menerpaku.
Satu perasaan aneh menyerang kedua mataku, kar’na secara langsung aku melihat diriku yang tak lebih dari 13 tahun waktu itu sedang duduk bercengkrama dengan seorang cowok yang seingatku adalah David. Aku berputar mensortir sekeliling, kucari sesuatu yang hilang. Satu adegan yang memang semestinya ada. Tepat disudut kidal belakang, kutemui aktor tersebut sedang memandang aku waktu itu menembus perutku yang kuyakin terlihat transparan olehnya. Aroma jealous menyeruak darinya.
Untung dentang bel mampu menangkal barah spiritual miliknya, membuat David keluar dari area bidikan Dira karena berbeda kelas.
Kulalap 2,5 jam menikmati asupan ilmu dari guru matematika-ku waktu itu. Mungkin hanya aku sendiri yang terlihat antusias melahapnya. Tak terasa istirahat tiba. Hanya ada 2 sosok yang benar-benar tak beranjak dari bangku masing-masing. Mereka adalah aku waktu itu dan Dira.
Tak berapa lama, sunyi memerangkap kami bertiga. Dira menggeser kursinya dan berjalan kearah aku yang disana. Aku sendiri tersenyum lucu memandang diriku waktu itu mengemasi buku-buku yang tak seharusnya kukemas.
“Wi…,” sapa Dira
Aku terdiam, seakan aku terhirup dalam adegan tersebut, kutatap matanya tanpa jeda.
“Aku gak suka kamu terlalu dekat ama David” ujarnya lagi
”Kenapa? Cemburu…?!” Bentakku.
“Kalo iya??!!” Balasnya lebih tajam
“Emang kamu masih sayang ama aku?”
“Apa kamu perlu bukti?” Ia melawan
“Silakan, aku mau liat….” Tantangku
Tanpa menjawab ia beranjak. Akupun menuju kantin untuk makan siang. Udara benar-benar panas, cukup terinfeksi perasaanku hingga membuat 4 gelas air kemasan kosong kutenggak. Habis itu aku duduk ditaman depan kelas sambil mendengar air kolam yang mengalir disitu. Rasanya pikiranku tenang, ini tempat faforitku memang.
Kembali aku melayang menembus dimensi dan masa, kini aku telah berdiri dilorong sekolahku. Aku juga melihat diriku waktu itu sedang ngobrol dengan David didepan kelasnya. Alih-alih banyak siswa berlari bergerombol terburu-buru.
“Ada ap sih ?” Tanyaku pada Febri teman sekelasku.
“Katanya ada siswa yang naik kebukit belakang sekolah…” jawabnya dengan perasaan cemas. Memang disekolahku terdapat sebuah bukit yang lumayan tinggi dibelakangnya, namun pihak sekolah sangat melarang siswanya naik keatas karena pernah ada siswa yang tergelincir dan tewas disitu.
“Siapa ?” Aku penasaran
“Gak tau…” ia berseru seraya berlalu.
Akupun ingin tahu dan mengikuti arus berjalan menjauh, tiba-tiba terasa satu sergapan genggaman tangan melingkari pergelangan kiri tanganku.
“Mau kemana ?” Tanya David
“Kesana…” kataku mengarah kebukit belakang sekolah.
“Ngapain ? Mau liat anak stress yang naik kesana ?” Katanya angkuh.
“Iya.” Jawabku.
“Apa itu lebih penting daripada aku?” Tanyanya seolah menjebak.
“Maybe…” komentarku sambil berlalu. Kutinggalkan saja dia, kar’na aku tak suka dilarang.
Kudaki tangga tanah alami, satu demi satu siswa lain lebih cepat melewatiku. Riuh rendah suara mulai menyerobot masuk telingaku saat aku baru setengah jalan. Aneh, padahal ini belum sampai diatas bukit. Dari sini kita hanya bisa melihat bukit lewat sudut bawah menyamping dari kakinya.
Satu plot tak percaya terpetak pada pandanganku. Tak perlu bertanya, aku langsung yakin bahwa anak yang ada disana adalah Dira. Ia sedang menempel didinding bukit curam sambil memegang kain yang ujung lainnya terikat pada akar pohon kering.
“AKU CINTA KAMU WIA !!!!”
Barisan huruf yang tercetak di kain yang kini berhasil direntangkan olehnya. Sorak “uhuu..” Riuh kian keras, entah kar’na salut atau ekspresi tak habis pikir. Aku tersenyum dalam hati.
Tapi, tiba-tiba ia tergelincir. Cepat sekali ia meluncur tanpa suara. Aku berlari turun kelembah antara lereng dan kaki bukit. Aku hanya sempat sesaat menangkap sosoknya terperosok dalam semak belukar.
“DIRA !!!!” Teriakku yang menerobos
Hanya bunyi Kresek-kresek rumput kering, kuterobos ilalang yang berbentuk lorong akibat tertimpa benda berat yang terseret.
Suasana berputar dalam bayang-bayang daun hijau, kian berat berubah gelap. Aku pusing, kupejamkan kedua mata ini. Meski begitu, perasaan mual tetap terhirup. Makin lama makin sirna seiring kilau sinar perlahan menembus kelopak mataku.
Gema tapak sepatu menghentak ritme ketakutanku. Saat ini aku didalam lorong putih yang tersorot lampu dari atas. Disisi kananku pintu terbuka, seorang suster melangkah keluar.
“Kaki kanannya retak, dan harus dipasang pin untuk menyatukan kembali tulangnya” ujar dokter dari dalam kamar tersebut.
Aku menerobos masuk, kudapati Dira sedang terbaring dengan kaki kanan terbalut perban. Aroma obat menyengat khas tak terelakkan kuhirup.
Kupandangi wajahnya, ia menatap mataku. Bibirnya bergetar,
“Romantis nggak ?”
Cukup lama kugantung jawabanku, kutantang sorot retina miliknya hingga benar-benar dapat kulihat bayang wajahku terefleksi dikedua pupil kecilnya.
“Romantis terbodoh yang pernah kulihat” jawabku.
Aku benar-benar masih ingat, butuh setidaknya 20 minggu untuk membuatnya dapat kembali bermain bola. Setelah kejadain itu, memang kami berdua kian dekat. Aku serasa tersihir oleh atmosfer cintanya.
Kugapai handphone ku, setelah hidup kutelpon Dira meski ia hanya berjarak beberapa meter dariku. Dua kali bunyi, langsung diangkat.
“Sayang, besok aja ya kita ketemunya. Sekarang aku lagi pengen sendiri. Ok…”
Klik, kuputus dan langsung kumatikan lagi. Rasanya tak sabar menunggu pagi. Ku langsung lingkari tanggal 19 Mei besok.
Aku terbaring, kucoba masuk kembali dalam gorong ingatanku. Mengulang saat-saat terindah dalam hidupku bersamanya.
Adzan Maghrib hampir selesai kudengar. Akupun berhasil terpejam, terlelap damai dan tergeletak ikhlas melepas duniaku dalam keabadian.
Nb : Kisah ini kutulis untuk mengenang teman sekaligus sahabat belajarku
DEWI ARISANDI yang pernah kukenal, yang akan kami kenang dan terus terpasung dalam ingatan. Semoga semua dedikasi kebaikannya mampu membuatnya berada ditempat terbaik disisi-Nya, amin.
25 Mei 2009,
7 hari setelah tragedi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar