ebenarnya ini hanyalah kasus percobaan pembunuhsn biasa. Namun yang membuatku bersemangat untuk menulisnya adalah karena inilah saaat dimana Inspektur Ahmad telah mulai mempercayai temanku_Shawn dalam membantu menyelesaikan kasus-kasus yang ia tangani.
Sewaktu kami tiba dilokasi, Tuan Ahmad langsung menceritakan detail kejadiannya. Peristiwa ini bermula ketika Alvin, Beno, Elfo dan Dodi berencana untuk pergi kepantai. Mereka semua sepakat berkumpul dirumah Alvin.
Alvin adalah seorang kepala bagian disebuah perusahaan kimia. Orangnya kalem dengan perawakan agak kurus setinggi 169 cm.
Elfo sendiri adalah salah satu pekerja dipabriknya. Sedangkan Dodi adalah guru Biologi tingkat SMA, ia pernah menjuarai lomba Biologi tingkat guru se-Provinsi.
Beno adalah seorang pengangguran yang sudah dianggap seperti saudara oleh Alvin. Mereka berempat merupakan Alumni SMA 1 tahun ke-11 dan telah berteman lumayan akrab.
“Oke, besokkan hari libur. Aku sendiri sedng cuti tahunan. Gimana kalau kita jalan-jalan kepantai?” Usul Alvin.
“Ide bagus tuh!” Sambar Dodi “Jangan lupa bawa makanan yang banyak biar kita pesta disana. Ditempat biasa kan?” tambahnya.
“Ng’gak masalah, asal kalian mau naik bis. Soalnya mobilku lagi di service” Syarat Alvin yang langsung disetujui oleh ketiga temannya.
Keesokan harinya merupakan hari yang lumayan cerah dengan angin barat yang nyaman terasa ditubuh. Dirumahnya, Alvin sudah siap berangkat. Hanya tinggal menunggu teman-temannya datang. Soalnya ini baru jam 07.45, rencananya nanti pukul 10.00 mereka akan berangkat. 15 menit berlalu, disusul ketukan khas menggema menembus pintu depan rumah Alvin.
“Masuk aja. Oh, kamu Beno. Tumben cepet, biasanya ngaret?!” Kata Alvin kepada beno yang balik bertanya “Aku boleh nitip makananku dikulkasmu ya Vin?”
“Ya, taruh aja disitu. Asal jangan sampe lupa dibawa aja nanti!” Pesannya.
Seolah diatur sang peri waktu, kedua teman merekapun muncul dan bergabung bersama.
“Kok kalian cepet banget datangnya? Kan masih 2 jam lagi kita berangkat?!” Tanya Alvin.
“Habis semalam aku lupa belanja buat hari ini sih” Kata Dodi “Aku pikir sekalian aja kemari setelah dari minimarket. Kaliankan tahu sendiri rumahku jauh dari kota” Tambahnya.
“Kalo aku sih abis nganterin Oma_ku kebandara. Ya udah, biar ngirit dan ng’gak usah bolak-balik, aku langsung kesini deh”
“Emangnya Oma_mu mau kemana Elf?”
“Itu, mau ketempat saudaranya”
“Eh Ben, ambilin minuman sana dikulkas!” Seru Alvin.
Merekapun menikmati makanan dan minuman diruang keluarga. Tapi, tepat pukul 09.20, secara mengejutkan Alvin muntah-muntah. Lalu pingsan tak sadarkan diri. Elfo langsung menelepon ambulan dirumah sakit terdekat. Meski masih bernapas, nyawa Alvin cukup mengkhawatirkan. Petugas RS yang merasa curiga melaporkan kejadian ini kekantor polisi sektor wilayah pusat.”Jadi korban selamat?” Tanya Shawn
“Belum ada kabar lagi dari RS tersebut” Jawab Inspektur Ahmad.
“Apa saja yang sempat dimakan oleh korban pak?”
“Di TKP kami menemukan bungkus coklat, snack kacang dan kue siap saji serta sebotol air mineral” Kata Tuan Ahmad sembari mempertontonkan barang-barang yang baru saja ia sebutkan sedang terbungkus oleh plastik bening tembus pandang kepada kami berdua.
Seperti biasa, Shawn pasti menatap serius apa saja barang yang ada dilokasi kejadian. Ia beranggapan bahwa barang-barang tersebut adalah saksi bisu disemua kejadian dan akan dengan jujur mengungkapkan fakta sebenarnya. Sedangkan aku hanya bisa ikut mrngamati dari bingkai kacamata orang awam yang ingin membantu semampunya.
“Bagaimana hasil pemeriksaan laboraturium dengan makanan dan minuman?”
“Kita masih menunggu, saya rasa tak lama lagi hasilnya akan dikirim kemari” Jawab Tuan Ahmad
“Kami boleh ngobrol sedikit dengan para saksi kan?” Tanya Shawn
“Tentu. Mereka ada disana” Katanya sembari menunjuk kearah luar.
“Ok, terima kasih Pak Inspektur” Ujar Shawn sambil menarik tubuhku mendekat.
“Kita bagi tugas Andi” Kata Shawn.
“Baik, asal hanya mencari informasi saja kan?!” Aku bertanya
“Iya, cari informasi sebanyak-banyaknya tentang berbagai hal. Terlebih hal aneh yang terjadi. Aku akan menemui Beno, sedangkan kamu, Oh!!!” Seru Shawn yang sesaat tadi barusan melihat Dodi beranjak dari kursi taman tempat ketiga saksi tadi duduk.
“Kalau begitu, kamu segera bawa orang yang bernama Elfo menjauh dari Beno, agar kita tidak saling tumpang tindih dalam menginterogasi mereka. Soal Dodi, biar aku yang tangani” Shawn berkata panjang lebar seolah sedang mempersiapkan strategi gerilya berperang.
Aku tak banyak membantah. Kuikuti semua perintahnya. Dengan alasan Inspektur Ahmad memanggil dirinya, aku bersama Elfo meningkir dari Beno menuju kolam disamping rumah Alvin Sang korban.
“Sebelumnya saya minta maaf. Saya hanya ingin membantu kerja para polisi disini” Kataku basa-basi.
“Oh, tidak apa-apa. Aku akan membantu sebisaku untuk mengungkap kejadian ini” Katanya
Lalu dimulailah Tanya jawab diantara kami. Ia berkata bahwa rencana liburan seperti yang mereka jadwalkan sudah hampir selalu dilakukan. Namun, yang membedakannya adalah kali ini mereka akan menggunakan bis jalur pantai karena mobil Alvin sedang dibengkel sehingga mereka berencana pergi pukul 10.00 pagi dengan bis pertama.
“Biasanya jam berapa kalian berangkat? Maksudku jika kalian memakai mobil pribadi milik Alvin?”
“Kalau pakai mobil Alvin, kami pasti berangkat pukul 07.00. biar bisa mendapat tempat yang strategis dipantai nanti” Jawabnya.
Kemudian saat aku mengarah kepersoalan bungkus makanan dan sisa minuman yang ada di TKP, ia mengaku bahwa salah satu makanan tersebut adalah miliknya.
“Ya, sewaktu menunggu keberangkatan, Alvin menyuruh Beno mengambil air. Kamipun mengeluarkan makanan kesukaan kami masing-masing. Aku membawa kue siap saji yang baru kubeli direstoran yang ada di minimarket seberang jalan. Sedangkan Dodi membawa snack kacang dan Beno mengeluarkan coklat dingin yang baru saja ia keluarkan dari lemari es”
“Apa anda tahu korban makan apa saja?” Tanyaku yang merasa akan mendapatkan sesuatu dari pembicaraan ini.
“Seingatku Alvin memakan semua makanan itu. Pertama ia makan coklat 1 bungkus, lalu snack kacang dan yang terakhir kue bawaanku. Aku tak menyangka ia keracunan, padahal sebelumnya ia kelihatan sangat sehat” Ujarnya.
“Apa anda mencurigai ada seseorang diantara kalian yang berusaha meracuninya dengan sengaja?” Tanyaku.
“Bila ditanya hal tersebut, aku yakin Dodi akan berpikiran sama denganku bahwa Beno mempunyai masalah dengan korban”
“Maksud anda?”
“Perlu kamu ketahui bahwa Beno mempunyai hutang terhadap korban saat ia berada dirumah sakit dahulu. Namun ini hanya dugaanku” Ia menambahkan “Aku juga sebenarnya tak begitu yakin dengan firasatku ini, sebab jauh sebelum Alvin pingsan, Beno telah lebih dulu pergi menuju dapur”
“Oh iya, apa anda merasa ada hal aneh yang terjadi pagi tadi sebelum Alvin keracunan?”
“Aku rasa…” Ia sejenak tampak seolah sedang berpikir.
“Aku rasa tak ada. Semuanya berjalan seperti biasa”
Setelah merasa cukup berbicara dengannya, akupun menemui Shawn dan segera manceritakan semua informasi yang telah kudapatkan tanpa tercecer secuilpun data-data yang kuperoleh. Shawn sendiri rupanya jauh lebih cepat dariku. Ia telah menanyakan hal-hal yang hampir mirip dengan yang kutanyakan pada kedua saksi lainnya.
Kami saat ini sejenak duduk dibangku taman di muka rumah disudut halaman TKP. Setelah beberapa detik temanku ini mengacuhkanku seperti biasanya. Seolah telah meresapi data yang kuberikan dan saling menyatukan fakta-fakta yang ada, ia tiba-tiba mengajakku untuk segera masuk kedalam rumah. Aku tak tahu apa yang ingin ia kejar.
“Ada apa Shawn?”
“Cepat! Kita harus segera kembali melihat barang-barang bukti!!”
“Lagi? Bukannya tadi sudah? Aku rasa tak ada lagi yang lainnya?!”
Tanpa mau menjawab pertanyaan-pertanyaanku, ia terus menuju meja tempat barang-barang bukti tersebut diletakkan. Tanpa menyentuh meja ataupun bungkus barang bukti, Shawn seolah telah mendapatkan apa yang ia cari.
“Apa yang kau dapatkan Shawn?” Tanyaku yang kurang bisa mengerti atas tindakannya barusan.
“Ada yang berubah Andi,” Katanya pelan.
“Apanya?”
“Lihat! Bungkus tersebut mulai menampakkan wujudnya yang sebenarnya”
Belum sempat aku memperhatikan lebih jauh, Shawn telah menyeretku keluar menuju kepinggir jalan dan terus berjalan menjauhi lokasi kejadian.
“Hei…??! Kita mau kemana?!”
“Kita harus memastikan bahwa makanan yang dibeli Elfo dan Dodi memang benar-benar baru dibeli pagi ini Andi” Jawabnya sambil terus berjalan semakin cepat.
Kamipun tiba di minimarket yang diceritakan kedua saksi. Sesudah memastikan bahwa makanan yang mereka bawa memang baru dibeli pagi ini, kamipun segera kembali kerumah Alvin.
“Jadi, kamu sudah tahu siapa pelakunya?”
“Ya” Jawab Shawn singkat
“Motif dan triknya?”
“Sudah” Katanya lagi dengan nada datar penuh keyakinan khas miliknya.
Setelah terlebih dahulu meminta izin dan mengkonfirmasikan kepada Inspektur Ahmad, akhirnya kami berdua diperbolehkan mengumpulkan para saksi dihadapan barang-barang bukti yang seolah siap menjatuhkan eksekusi mati.
“Terlebih dahulu saya minta maaf atas permintaan untuk berkumpul disini” Kata Shawn. Ia melanjutkan, “Hal ini tak lebih hanya bertujuan memberikan kesempatan kepada kami untuk mengungkapkan kebenaran dibalik peristiwa keracunan yang dialami Tuan Alvin”
“Jadi benar bahwa ada yang sengaja meracuni Alvin?” Seru Dodi sedikit histeris.
“Bisa dikatakan begitu” Jawab Shawn “Namun saya tidak begitu pasti apakah ada maksud terselubung disebalik ini semua, yang saya dapat yakinkan adalah ini merupakan peristiwa meracuni seseorang”
“Sudahlah, jangan terlalu mendramatisir keadaan. Toh semuanya sudah terjadi” Sahut Elfo seolah bersikap tak acuh.
“Elfo benar, sebaiknya cepat kamu katakana apa saja yang kamu ketahui nak” Ujar Beno mendukung pernyataan Elfo.
“Baik, akan saya jelaskan fakta-fakta yang saya peroleh dilapangan” Shawn terlihat sedikit bersemangat kali ini, iapun melanjutkan.
“Menurut saudara Elfo dan Dodi, saudara Beno telah ada dirumah korban saat mereka tiba”
“Ya, benar!” Beno berkata “Hal itu bagi kami sudah biasa, sebab saya dan Alvin berteman akrab sejak kami sekolah dasar”
“Saudara Elfo juga mengatakan bahwa andalah yang membawa dan memberikan coklat kepada korban”
“Kalau kamu ingin menuduh saya memasukkan racun kedalam makanan, bukankah mereka berdua juga bias melakukan hal yang sama? Lagi pula, saya tidak memaksa Alvin untuk memakan coklat” Beno membela diri seraya memalingkan pandangan kekedua sobatnya.
“Saya rasa kali ini dia benar” Sela Dodi
“Disini yang saya permasalahkan adalah, pertama makanan anda adalah satu-satunya makanan yang dingin”
“Lalu, apa salahnya?” Tanya Elfo
“Hal itu memang tidak salah, namun akan menjadi suatu masalah yang sangat serius jika makanan yang didinginkan tersebut sudah lama kadaluarsa” Shawn menekankan “Itulah sebabnya saya katakan bahwa ini adalah sebuah tindakan meracuni seseorang, dan bukanlah satu tindakan percobaan pembunuhan. Sebab, racun yang dihasilkan oleh makanan yang telah kadaluarsa seperti coklat hanya dapat meracuni tubuh dan tidak dapat berbuat lebih dari itu”
“Apa ada bukti yang menguatkan dugaanmu?” Tanya Dodi.
“Mungkin ada !!” Tiba-tiba sebuah seruan keras dari arah belakang menyahut dengan tegas.
“Oh ya, Inspektur Ahmad?” Kata Shawn dengan ekspresi terkejut yang disembunyikannya.
“Kami baru menerima hasil pemeriksaan Lab. dari RS pusat bahwa dalam air minera, sisa snack kacang maupun kue siap saji tidakmenampakkan reaksi racun sedikitpun” kemudian dengan wajah kecewa ia menambahkan “Tapi, dikarenakan coklat miliksaudara Benohanya tersisabungkusnya saja, kamipun tidak dapat mengetahui apakah didalam coklat yang telah diberikan olehnya mengandung racun apa tidak”
“Nah, apa kubilang. Tidak adakan bukti yang bias membenarkan dugaanmu itu, bocah sok tahu!” Seru Beno penuh kemenangan.
“Oh ya?” Kini Shawn kembali bersemangat.
“Menurut saya, ada satu hal yang telah anda semua lupakan. Padahal hal tersebut merupakan hakim yang akan memukul palu akhir dari semua kebenaran ini”
“Apa Shawn?” Aku mulai berbicara setelah sekian detik terdiam memperhatikan penggalan demi penggalan drama pembicaraan peristiwa pengungkapan kejahatan ini saling bertautan.
“Itu adalah sebuah peristiwa alami, yaitu peristiwa penguapan“
“Maksudmu? Tanya Inspektur Ahmad.
“Ya, penguapan. Semua yang ada disini tentu tahu bahwa bila suatu benda didinginkan, ia akan mengeluarkan butiran-butiran air saat dikeluarkan dan didiamkan diluar kulkas. Sehingga, dapat saya simpulkan bahwa jika didalam kandungan butiran-butiran air yang melekat dipembungkus coklat milik Saudara Beno ditemukan reaksi racun yang lemah sekalipun, anda takkan dapat mengelak lagi atas tuduhan tindakan meracuni seseorang secara sengaja” Tegas Shawn.
Lagi-lagi aku hanya bisa mengagumi segala tindak tanduk sobatku ini. Bagaimana tidak, untuk kesekian kalinya semua hipotesa yang ia ungkapkan ternyata benar adanya.
Beno adalah pelaku yang sengaja memberikan racun terselubung didalam coklat yang telah kadaluarsa kepada Alvin. Beruntung Alvin akhirnya memang bisa diselamatkan karena cepat dibawa kerumah sakit. Adapun motif dari tindakan Beno adalah, ia hanya ingin memberi sedikit pelajaran kepada Alvin dikarenakan korban sering menghina pelaku yang seorang pengangguran dengan sebutan ‘orang tidak berguna’. Meski menurut pengakuannya, pelaku juga sempat memiliki sedikit niat ingin membunuhnya, agar hutang yang lumayan banyak miliknya kepada Alvin dapat lunas tanpa harus dibayar.
Pg’’04 Juli ‘07
Tidak ada komentar:
Posting Komentar