isah ini terjadi sekitar setengah tahun yang lalu, tepatnya menjelang liburan semester ganjil ditahun pertamaku sekolah SMA. Sebuah gudang bekas pos penjagaan dijalan Kesatria ialah saksi bisu atas tewasnya seorang anak kepala kepolisian Reskrim Tanjung Uban.
Saat itu aku dan Shawn sedang dalam perjalanan pulang sekolah, dan tiba-tiba terlihat sesosok pria berlari dari depan tepat menuju kearah kami.
“Tolong!!” katanya sambil berseru dengan setengah nafas yang menggantung.
“Hei…ada apa?!!” Tanyaku
Masih dengan nafas berantakan ia berkata “Tolong saya, teman saya tewas disana!” katanya seraya mengayunkan jari telunjuknya kearah sebuah bekas pos penjagaan.
Mendengar penuturannya, Shawn langsung sigap berlari diikuti langkahku dibelakang bayangannya.
Bila aku tiba diambang pintu pos tersebut, Shawn telah ada didalamnya sesaat lebih cepat. Diaitu terlihat seorang remaja sekitar 17 tahun tergeletak kaku diam dengan bibir yang membiru pucat.
“Apa ia sudah tewas?” tanyaku gugup,maklum ini baru kali kedua aku melihat secara langsung mayat manusia.
“Ya” jawab Shawn “Tampaknya ia keracunan sesuatu” tambahnya lagi sambil memalingkan pandangan kesekitar TKP.
Disitu teronggok 8 botol minuman beralkohol golongan B dan 5 bungkus kosong rokok serta plastic bekas pembungkus makanan ringan.
“Tak diragukan lagi, mereka pasti habis pesta miras semalam”
“Tapi aku tidak membunuhnya!!” seru pria tadi.
“Oh ya Andi, bisakah kamu memanggil polisi kemari?”
“Tentu saja Shawn” kurogoh saku celanaku untuk mengeluarkan Handphone.
“Siapa sebenarnya anda? Dan siapa saja yang bersama kalian semalam?” Tanya Shawnyang baru meespon pertanyaan pria ini tadi.
“Kami adalah 5 orang pelajar disekolah tehnik elektronika dijalan Padjadjaran tahun ke 3. Ini pertama kalinya kami minum disini” jawabnya kali ini dengan nafas yang mulai teratur.
“Kalau begitu biasanya kalian dimana?”
“Biasanya sih kami dirumah Faril, tapi semalam ayahnya sedang ada dirumah mengadakan rapat” ia menambahkan “Aku rasa, kami semua pasti akan sangat kehilanga dirinya”
“Aku sudah melapor Shawn, katanya sebentar lagi mereka akan tiba” kataku
Seperti tak menggubrisku, Shawn bertanya “kalau boleh saya tahu, siapa nama anda dan ketiga teman anda yang lain?”
“Aku Jhon, sedangkan temanku yang lain adalah Adi, Yanto dan Indra”
“Kamu bisa memanggil mereka kemari?” Sahwn berkata seraya berbisik kepadaku untuk meminjamkan teleponku padanya.
“Ya, aku rasa bisa” jawabnya
“Tapi ingat, jangan beritahukan apa yang telah menimpa teman anda ini” seru Shawn.
Sambil menanti ketiga temannya dan para polisi tiba, ia mengatakan bahwa semalam ia bersama Faril, Yanto dan Adi sepakat untuk berkumpul disini, korban lalu menyuruh Yanto dan Adi masing-masing agar membelikan 6 botol minuman dan 2 bungkus rokok serta makanan didua tempat yang berbeda.
“Pukul berapa?” potong Shawn
“Sekitar pukul 20.00 s/d 20.45” jawabnya sesaat setelah memandangi jam tangan miliknya.
“Lalu?”
“Lalu sehabis mereka kembali, kamipun langsung berpesta. Hingga pukul 21.10,Indra datang membawa 2 botol minuman dan 3 bungkus rokok”
“Apa dia tahu kalau kalian akan minum disini?” tanyaku penuh selidik
“Tentu saja tahu. Faril sering mengajaknya minum, namun setelah adiknya meninggal karena OD, ia kemudian jarang mau datang bila kami ajak”
Ia menuturkan, “
“Kemudian seingat saya, saat menjelang pukul 23.00, Indra mengajak Yanto dan Adi untuk menginap dirumahnya setelah sebelumnya ia teringat akan siaran langsung liga sepakbola Eropa yang tak lain merupakan hobi mereka. Setelah merasa puas minum, merekapun sepakat untuk bergegas menuju kerumah Indra yang kebetulan kedua orang tuanya juga sedang keluar kota. Meski minuman masih tersisa kurang lebih 1 botol, akhirnya Faril dan akulah yang melanjutkan pesta tersebut hingga terlelap. Dan seperti apa yang kalian lihat, bila aku tersadar aku sangat terkejut setelah tahu bahwa Faril telah tewas terbujur kaku disampingku”
Seolah telah diatur sang waktu, saat ia selesai bercerita, para polisi dan ketiga saksi yang kami tunggu-tunggu tiba. Para polisi langsung mengamankan TKP. Tim Forensik memberitahukan bahwa korban memang diracun dan reaksi racun ditemukan dari sebuah botol minuman dan gelas plastik yang dicurigai digunakan korban. Namun diperlukan waktu sekitar 3 jam untuk mengidentifikasi secara tepat apa jenisnya.
Tapi yang sangat mengejutkanku adalah korban merupakan putra tunggal dari kepala polisi Reskrim didaerah sini. Ayah korban sangat syok denga apa yang menimpa putranya. Ia menugaskan langsung pasukan khusus untuk menyelesaikan dan menangkap pelakunya.
Bicara soal pelaku, ternyata ketiga tersangka selain Jhon adalah remaja yang masih belia. Yang pertama Adi, cowok berambut cepak dengan tinggi 160_an, ia agak kurus dan berpenampilqan rapi. Yang bertopi dan paling pendek adalah Yanto. Aku rasa ia sering ngumpul sama anak-anak punk, itu terlihat jelas dari gayanya. Dan yang terakhir adalah Indra. Badannya cukup berisi dengan rambut gondrong berbelah tengah. Kira-kira begitulah yang dapat kugambarkan tentang para tersangka dalam kasus kali ini.
Seperti yang kita tahu, Pasukan Khusus Kepolisian ‘slasher’ sangat tidak menyukai kehadiran orang awam. Kamipun diusir menjauhi TKP.
Tapi tampaknya sobatku ini belum cukup puas dengan penyelidikannya, iapun beralasan bahwa ada barang miliknya yang dirasa terjatuh didalam. Aku rasa ia ingin mencari tahu sesuatu disekitar lokasi bermasalah tersebut. Meski ia akhirnya diusir keluar secara paksa, namun jelas terlihat ia menyunggingkan senyuman kemenangan khas miliknya.
“Ayo Andi kita pergi. Kita harus kerumah pamanku,dokter Andre untuk membantu menyelesaikan kasus ini”
Belum sempat penasaranku menghilang,Shawn mengeluarkan sebuah kertas dari saku celananya.
“Apa itu Shawn?”
“Tadi aku sempat mengambil daftar berita interogasi polisi-polisi itu”
“Gila!!” kataku kaget “Apa ng’gak bahaya?”
“Tenang sobat, saat mereka menyadarinya,kita mungkin telah menangkap pelakunya”
“Menurutku bukankah Jhon_lah yang paling berpeluang membunuh Faril?”
“Tidak Andi. Ia malah sangat tidak mungkin untuk membunuh. Coba kita pikir, apakah mungkin pelaku mau menghabiskan minuman beracun miliknya bersama korban? Bisa-bisa ia juga tewas” jawab Shawn sambil terus membaca kertas yang berhasil ia ambil tadi di perjalanan menuju rumah pamannya.
Kini kami tiba disebuah rumah yang lumayan besar bercat putih bersih. Setelah menemui satpam, kamipun diantar masuk dan menemuinya. Yang benar sih hanya Shawn yang menemuinya, aku sendiri terpaksa pergi ketoilet karena benar-benar tidak tahan untuk menahan keinginan untuk buang air kecil. Begitu aku selesai, tahu-tahu Shawn telah menunggu didepan rumah bersama seseorang yang aku rasa adalah dokter Andre. Menurutku ia orang yang ramah dengan kulit sawo matang dan berkacamata layaknya para petugas-petugas kesehatan yang biasanya ada.
Kamipun pamit dengan aku yang tak sempat meski untuk menjabat tangannya.
“Hey Shawn,” kataku “Kasih tahu dong apasih yang kamu dapatkan dan cari tahu dari tadi?”
Sobatku ini diam beberapa detik, lalu ia mulai bersiap untuk bercerita.
“Pada kasus ini aku tahu keanehan-keanehan apa saja yang ada di TKP berkat berkas penytelidikan polisi” Kata Shawn sambil memberikan beberapa lembar kertas padaku.
“Coba lihat ‘Barang Bukti’ dihalaman 2. Disitu tertulis lengkap apa-apa saja yang ada dilokasi kejadian, yang paling aneh menurutku adalah rokok”
“Kenapa memangnya dengan rokok?” tanyaku
“ Disitu tertulis 5 bungkus kosong rokok,”
“Ya,lalu?”
“Sejak pertama kali aku masuk kedalam bekas pos penjagaan itu, aku sudah sangat curiga pada bungkus-bungkus rook-roko tersebut. Khususnya segel pembungkus rokok itu yang tidak kutemukan”
“Maksudmu rokok berfilter atau tidak?” Lagi-lagi aku bertanya mencari kejelasan perkataannya
“Tentu saja segel dari 3 bungkus rokok kretek”
“Kalau boleh aku menebak, apakah kamu berfikir bahwa racunnya diolesi pada batang rokok-rokok itu Shawn?”
Temanku ini hanya tertawa kecil mendengar perkataanku
“Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan Andi,sudah sangat jelas bahwa racunnya dilarutkan didalam botol minuman keras. Yang dapat aku simpulkan dari bungkus rokok tak bersegel tersebut adalah, kemungkinan besar rokok-rokok itu telah diisi dengan penawar racun yang berbentuk daun mirip tembakau. Seperti yang kita ketahui,rokok kretek lumayan keras, aku menduga itulah penyebab mereka mereka tidak menyadari ada campuran benda asing didalamnya. Ditambah lagi dengan kondisi mabuk yang mereka alami”
“Jadi maksudmu, yang telah meracuni Faril adalah Indra?!!” Aku berseru “Lalu,apa dan bagaimana caranya?” tanyaku lagi
“Baiklah,akan aku jelaskan” kata Shawn kepadaku sambil terus melangkah.
“Bagi Indra, cukup mudah untuk mengetahui apa jenis minuman yang biasa diminum korban. Iapun melarutkan racun kedalamnya. Agar tidak dicurigai, racun yang ia pilih merupakan racun istimewa. Racun tersebut dapat dinetralisir dengan cara menghisap asap dari daun suatu tumbuhan. Penawar tersebut ia selipkan didalam setiap batang rokok yang ia bawa. Itu sebabnya kenapa rokok-rokoknya tidak bersegel”
“Tapi Shawn,aku rasa…”
“Aku tahu Andi, apa yang ingin kamu katakan” Potongnya seolah mengerti pemikiranku.
“Kamu pasti berfikir bahwa tidak ada jaminan yang mampu menjamin bahwa korban tidak akan menghisap rokok milik Indra. Akupun pada awalnya berfikir demikian. Namun, kita sangat beruntung mengunjungi pamanku tadi. Ternyata korban adalah pasien pamanku. Faril menderita gangguan saluran pernapasan yang cukup parah hingga sering sulit untuk bernapas. Ia pernah berkata bahwa alkohol sangat membuat ia nyaman karena dapat membuat suhu tubuhnya meningkat, sehingga menjadikannya selalu lebih mudah untuk bernapas. Itulah yang menyebabkannya meminum alcohol, namun haram menyentuh rokok beberapa tahun terakhir ini_yang kurasa merupakan kartu As-nya pelaku. Kemudian setelah berhasil memberi minuman beracun kepada korban dan yakin bahwa hanya korban yang tidak merokok,iapun bergegas meninggalkan TKP dengan berbagai alasan. Yang penting cepat pergi. Meski racun ini cukup istimewa, tapi lumayan lambat dalam melumpuhkan targetnya. Kekurangan ini malah membuat Indra dapat dengan santai meninggalkan korban yang sudah sangat mabuk berat” kata Shawn
Ternyata dugaan temanku ini cukup akurat,dengan ditambah lagi kecurigaan polisi, Indra pun akhirnya mengaku telah membunuh Faril. Itu semua dikarenakan, Faril juga telah melakukan hal yang sama terhadap adiknya. Ia mendengar sendiri, sekitar 2 bulan yang lalu saat Faril sedang mabuk berat dirumahnya, ia berkata dalam keadaansetengah sadar bahwa dirinyalah yang telah membuat adik Indra over dosis setelah dipaksa meminum minuman beralkohol secara berlebihan.
Pg,17 Sept 2006
Tidak ada komentar:
Posting Komentar