Minggu, 20 April 2008

PERTEMUAN DAN KEMATIAN


pa ya rasanya kematian? Mungkin kita pernah mempertanyakannya, atau minimal memikirkannya. Yang pasti kurasa, kita akan tahu jawabannya saat kita mengalami dan merasakannya sendiri. Kira-kira inilah yang terlintas dipikiranku ketika aku menyaksikan drama berdarah saat pamanku_Yono meninggal dunia.
Padahal saat itu merupakan hari-hari terakir libur panjang sewaktu aku akan melanjutkan sekolah ke SMA. Aku menghabiskan waktu dengan menginap dipenginapan sewaan pamanku yang kebetulan sedang merayakan pesta pernikahannya diatas pegunungan yang membutuhkan waktu 2 jam perjalanan.
Angin berhembus kencang diluar, dipenghujung musim penghujan seperti sekarang ini memang sering terjadi badai hujan.
Namun tepat pukul 7 pagi, seolah bersamaan dengan melintasnya hawa sejuk diluar, bibiku menemukan suaminya tewas dengan tali melingkari lehernya tergantung kaku, pucat membiru beku mengenakan setelan jas hitam rapi.
Peristiwa ini sungguh membuat para penghuni penginapan yang tak lain merupakan sanak famili pamanku terkejut. Selain orang tua paman Yono, perayaan yang baru dirayakan semalam juga dihadiri adik pamanku_Aryo. Sedangkan Bibi ku tidak memiliki saudara satupun sejak kecelakaan hebat yang hanya mengizinkan dirinya seorang untuk melanjutkan kehidupan.
Sungguh ironis memang, padahal pamanku terlihat gambira semalam. Ia bahkan harus mengabaikan pekerjaannya untuk meraakan pesta kecil ini, yaitu undangan bermain sulap diacara ‘parade sulap’ tingkat nasional. Meski baru setahun ia menjadi seorang pesulap.
Krama_ayah dari pamanku lalu menghubungi kantor kepolisian sektor wilayah terdekat, tetapi ternyata badai yang sempat melanda semalam telah merobohkan beberapa tiang-tiang listrik dirute sepanjang jalan menuju kemari. Hal ini baru kami ketahui ketika anak pemilik penginapan yang memang kami baritahukan mengabarkannya. Sosoknya yang pendiam dengan tubuhnya yang agak kurus semakin membuat misterius kehadirannya. Ia bersikeras agar kami mau memperlihatkan dan menceritakan kejadian mengerikan yang baru kami alami.
“Namaku Shawn,anak pemilik penginapan ini” Katanya memperkenalkan diri.
“Ayahku adalah mantan polisi di Divisi kriminal kepolisian pusat, ayahku sedang keluar kota jadi akulah yang bertanggung jawab penuh atas segala kejadian didaerah sekitar penginapan ini” katanya lagi seolah ingin agar kami semua mau lebih mempercayainya.
“Aku masih belum dapat menerima ini semua” Bisik Aryo denan diiringi isak tangis Bibi Aini.
“Sebaiknya, apa yang harus kita lakukan terhadap jasad almarhum anakku?”
“Apa kalian belum menurunkan korban?” Ujarnya dengan sedikit ekspresi kaget
“Kami semua sungguh sangat takut nak” jawab Krama
“Kalau begitu lekas kita ke TKP” katanya sambil berdiri penuh semangat.
Sebenarnya aku tak berminat untuk kembali kekamar ini. Tapi tampajnya tak cukup tenaga para lelaki yang ada disini agar bisa menurunkan almarhum pamanku bila aku tak membantu. Setelah itu korbanpun ditutupi selimut dengan posisi yang wajar oleh istri Tuan Krama.
“Aku rasa ini akan sangat membantu penyelidikan para polisi nantinya” ia berkata sambil mngeluarkan alat tulis disaat kami semua berada diruangan keluarga penginapan ini.
“Maksudmu??!” Ujar Aryo seolah tak mengerti_sama sepertiku, terhadap bocah pemilik penginapan ini.
“Iya, seperti alibi kalian selama semalam, atau mungkin ada hal aneh yang terjadi disini mungkin?”
“Jadi kamu mencurigai kami?! Kami tak mungkin membunuhnya!!” Seru Tuan Krama dengan sedikit emosi yang mencuat keluar.
“Saya tidak pernah mengatakan bahwa kalian pantas untuk dicurigai sebagai pelakunya, saya hanya ingin mencoba meringankan tugas kepolisian. Apa bisa dimengerti?” Tanya_nya seolah telah mengetahui akhir kisah yang sedang kami lalui.
“Meskipun kami menyimpan perasaan dicurigai, kamipun mau untuk_ ya boleh dikatakan interogasi semiformal-lah olehnya.
Setelah bertanya macam-macam, tampaknya teman baru kami ini sangat bingung hingga tak menggubris pertanyaan dari Tuan Krama.
“Hei Nak!!!” Katanya untuk ketiga kalinya dengan sedikit nada bentakan
“EH…ya. A..ada apa?” Jawabnya kaget.
“Apa kamu tidak dapat berbuat sesuatu, atau paling tidak mencari tahu apakah polisi telah tiba?”
Dengan menghabiskan beberapa detik untuk sejenak berpikir, iapun berencana kembali kepondok utama seperti saran Tuan Krama.
“Hei sobat, sebaiknya kamu ikut denganku” Ajaknya yang kurasa sedikit memaksa
“Ya. Lebih baik kamu menemaninya Andi” Kata paman Aryo.
Kukira dia mengajakku hanya untuk menemaninya, namun ternyata ia ingin bertanya dan mengetahui lebih banyak tentang paman Yono. Mulai dari siapa saja keluarganya, temannya maupun musuhnya. Tapi dia lumayan terkejut ketika mengetahui pekerjaan pamanku.
Setelah menghubungi polisi dan memaatikan merek sedang on the way , iapun bergegas kembali kepenginapan kami.
Pintu depan penginapan ini ia buka dengan sedikit kasar, diikuti dengan kehadiranku yang dibayangi oleh hembusan angina lembab khas pegunungan. Disaksikan seluruh penghuni penginapan yang kebetulan sedang berkumpul diruang depan, iapun berlari kecil menuju TKP setelah sebelumnya samat-samat terdengar-mungkin hanya aku yang mendengarnya karena aku persis berada dibelakangnya saat ia berkata ‘semuanya sudah jelas’.
Denagn diiringi seluruh keluarga kecil ini-yang seperti semut sedang berbaris acak namun teratur mengikuti koridor sempit penginapan, akhirnya kami kembali memasuki kamar korban.
“Hei! Apa yang akan kamu lakukan??!” Teriak pama Aryo melihat Shawn mendekati jenazah pama Yono.
Namun sungguh tak pernah kami bayangkan kejadian yang kemudian berlaku.
Dengan tanpa ekspresi apapun, ia lalu menyibak kain penutup tubuh sang korban yang merupakan tabir awal pembuka seluruh masalah. Iapun membuka baju korban. Sangat mengejutkan atas apa yang diperlihatkan olehnya saat itu.
Dibadan jasad tersebut kami melihat tali seperti tali ransel pada kedua bahunya yang terus kebawah dan melilit diperutnya.
Paman Yono. Orang yang kami kenal ramah dan senag melucu, akhirnya tewas dikarenakan hobi sulap yang sangat ia senangi.
Ternyata ketika sedang menguji alat sulap baru miliknya yang bertemakan ‘Gantung Diri’ ini, tali pengaman yang dihubungkan langsung dengan peralatan keselamatan ditubuhnya terputus, sehungga tali dilehernya yang merupakan kamuflase belaka malah benar-benar menjerat leharnya diatas panggung percobaan eksekusi tiang gantungan miliknya.
Setelah para polisi tiba dan melakukan pemeriksaan seperti baisanya, kamipun dipersilahkan pulang, tentu saja setelah kami memberikan penjelasan dan dugaan atas tewasnya korban.
Kami semua pun mengakhiri acara menginap dipenginapan ini lebih cepat dari yang direncanakan. Aku cukup kedinginan sewaktu menunggu mobil milik paman Aryo menjemputku di beranda depan pondok utama, belum lagi huijan gerimis yang terus berlangsung. Beruntung secangkir teh panas menemaniku bersama Shawn disini.
“Oh ya, kalau boleh tahu dari mana kamu dapat menyimpulkan bahwa almarhum pamanku mengalami kecelakan, dan bukan bunuh diri ataupun dibunuh?”
Sambil meletakkan cangkir the yang barusan ia habiskan, ia berkata “Dari informasi yang kalian berikan memang sempat terlintas dugaan pembunuhan dipikiranku. Tapi aku cukup beruntung mengetahui bahwa pamanmu adalah seorang pesulap. Akupun berkeyakinan sangat besar bahwa ia bunuh diri, tapi ada yang aneh pada tubuh korban, mana ada sih orang bunuh diri mengenakan jas rapi dipagi hari seperti pamanmu?” Katanya mengakhiri pertemuan singkat denagn dirinya namun terus berlanjut hingga kini dan semoga terus untuk selamanya.
Mlm,18 Nov 2006

Tidak ada komentar: