Minggu, 20 April 2008

The Last Test


Rasanya aku sudah cukup cepat berlari mengejar ketertinggalanku, tapi gerbang tetap saja tertutup dan membuatku terlambat.
“Sial,dasar bel sialan !!” gumamku dalam hati. Dengan cepat kucari panitia ujian agar mendapatkan izin masuk.Keringat tak kulayan saat kubuka lembar soal bersama pensil 2B terjepit disela-sela jari tangan kananku.Setelah izin masuk kuletakkan diatas meja pengawas tentunya.
Waktu tinggal 90 menit dari 120 menit yang disediakan.Ini gara-gara aku tidur kemalaman setelah menciptakan sesuatu tadi malam. Semua yang ada di otakku seakan lenyap dari memori internal made in Tuhan-ku ini.Kucoba cari dan mengingat apa password-nya,agar ingatan tersebut dapat muncul.Tapi aku rasa sia-sia.
Hanya tersisa 25 menit, dan baru 13 soal yang bisa aku kerjakan.Kucari alternatif lain.Kulirik sepasang pengawas didepan, kurogoh saku celanaku. Bermaksud ingin mengambil memori eksternal yang kubuat semalam.Tapi tampaknya Tuhan tak bisa membiarkan umatnya berbuat curang.
Saat ini aku seakan berada sesaat dialam maya-yang pasti jimatku ketinggalan.
Tapi aku belum mau menyerah, aku masih punya alternatif lain. Kucolek bahu orang depan, kukirim sinyal SOS lewat secarik sobekan dari kertas buram yang kupunya. Tak lama memang untuk menunggu bantuannya. Perlahan kubuka, “Lumayan” kataku pelan.Kini separuh soalku telah terisi.Kembali kucoba kirimkan sinyal SOS, tapi kali ini dengan isyarat
suara tanpa nada dan bunyi. Tentunya keorang disampingku. Dengan cara yang sama akhirnya semua soal telah terjawab. Namun itu semua harus kutebus dengan denda yang terpaksa kubayar tunai lewat paraf di “Daftar Berita Acara Ujian” sang pengawas.
Saat aku baru selangkah keluar dari pintu kelasku, tiba-tiba bel berkumpul berbunyi. Dengan perasaan aneh akupun berlari menuju ke lapangan tengah sekolahku. Disana kudapati Pak Kepsek tengah berdiri dihadapan para siswa seluruh kelas XII. Belum sempat aku membaur bersama teman yang kukenal, secara mengejutkan_ bagai sihir, sebuah amplop putih bertuliskan namaku di bagian wajahnya muncul tepat dihadapanku. Sekilas kulihat banyak teman-temanku yang tak jelas bersorak gembira dan ada beberapa yang pingsan serta menangis. Aku masih bingung dengan apa yang kini sedang terjadi. Perlahan aku mulai mengerti, kalau saat ini aku sedang berada diacara spektakuler selama 3 tahun aku belajar disekolah ini. Pengumuman kelulusan!!!
Dengan cepat kusobek amplopku. Kubuka lipatan surat yang ada didalamnya. Menggunakan teknik membaca cepat ala guru Bahasa Indonesia-ku, kucari kata atau kalimat utamanya. Kata tersebut kudapati dicetak tebal_ dan terbaca olehku ‘’TIDAK LULUS’’
Kembali suasana disekitarku serasa berubah. Kali ini aku berada di gudang rumahku. Lalu perlahan mulai terdengar suara ibuku seperti jet tempur Israel yang sedang membombardir Lebanon_ memaki ,memarahi dan menyalahi aku.
Entah apa yang sedang kupikirkan, saat kuraih sebuah botol berwarna hijau bertuliskan “ Racun Seranga”. Mungkin aku berpikir bahwa kami juga bisa disebut serangga, “The King Of Insect” tentunya. Dengan semangat, kutengak habis cairan tersebut. Rasanya sangat variatif. Manis, asam, asin kalau boleh kugambarkan.
Lalu keanehan mulai kembali terjadi. Suara yang kukeluarkan saat berteriak kesakitan menjelang sakratul maut bukannya suara yang biasanya kudengar diserial-serial relijius televisi, tetapi terdengar olehku seperti suara alarm jam yang ada di kamarku. KRIII……NG !!!!
Dengan terkejut plus sedikit tersentak, mataku terbuka lebar. Seakan tak percaya kini aku ada diatas kasur tempat tidurku yang berantakan kaya’ kapal pecah dengan piyama lusuhku. Saat ini pukul 07.35, bunyi weker-ku berhenti_seolah bosan dan muak denganku yang tak kunjung sadar. “Mimpi yang aneh” kataku mencoba melucu menghibur diri sendiri seolah berpura-pura tetap santai.
Namun tubuhku memang tak mampu untuk tidak bergetar gugup menutupi kegelisahanku dan ketakutanku. Bagaimana tidak, karena kini mimpiku tadi bagiku mulai perlahan terlihat menjadi kenyataan.

Tidak ada komentar: